https://semarang.times.co.id/
Opini

Ketergantungan Validasi di Era Media Sosial

Selasa, 06 Januari 2026 - 17:11
Ketergantungan Validasi di Era Media Sosial Mamluatur Rahmah, Dosen FUD UIN Raden Mas Said Surakarta dan Mahasiswa Doktoral UIN Walisongo Semarang.

TIMES SEMARANG, SEMARANG – Aktivitas mengakses media sosial pada era digital kontemporer saat ini, telah menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Bagi banyak orang, membuka gawai dan menelusuri lini masa seakan menjadi rutinitas mengawali hari-hari. Beraneka ragam konten disajikan secara masif, mulai dari dokumentasi keseharian, curahan emosi personal, tutorial gaya hidup, sampai tren hiburan yang bersifat viral. 

Di balik arus konten yang terlihat ringan dan menghibur itu, rupanya tersimpan dinamika psikologis dan spiritual yang jauh lebih kompleks. Fenomena tersebut bukan sekadar soal teknologi atau hiburan, melainkan menyentuh aspek pembentukan identitas, kesehatan jiwa, dan orientasi nilai. 

Oleh karena itu, pembacaan melalui perspektif akhlak (etika Islam) dan tasawuf (pendidikan penyucian jiwa) menjadi sangat relevan supaya media sosial bukan hanya dikonsumsi, melainkan juga dijadikan sarana refleksi diri.

Aktivitas membagikan konten di media sosial pada hakikatnya bukan sekadar proses dokumentasi, melainkan bentuk representasi diri di ruang publik. Setiap unggahan menyusun narasi personal yang layak dikonsumsi oleh khalayak luas.

Motif dibaliknya pun beraneka ragam, ada karena kebutuhan akan pengakuan sosial, upaya membangun citra diri dan personal branding, sampai dorongan mengikuti dunia arus tren supaya tetap dianggap relevan. 

Dalam konteks inilah, akhlak dan tasawuf berperan sebagai kerangka etik dan spiritual yang membantu individu menilai batas kewajaran perilaku digital. Keduanya mengajukan pertanyaan mendasar, sejauh mana ekspresi diri masih berada dalam koridor etis dan tidak melampaui batas yang merusak keutuhan batin.

Dari sisi akhlak, perhatian pertama tertuju pada hubungan seseorang dengan dirinya sendiri. Kejujuran menjadi prinsip utama. Media sosial kerap kali mendorong individu menampilkan persona ideal yang tidak selalu sejalan dengan kenyataan. 

Ketidaksinkronan antara citra daring dan realitas kehidupan berpotensi melahirkan konflik batin serta kelelahan psikologis. Selain itu, akhlak menuntut penjagaan martabat diri, bukan sekadar dalam bentuk penampilan fisik yang sopan, melainkan juga dalam menjaga privasi, aib, dan informasi personal yang semestinya tidak dikonsumsi publik. 

Lebih jauh lagi, waktu dipandang sebagai amanah. Ketika sebagian besar energi dan pikiran dihabiskan untuk produksi dan konsumsi konten hingga mengabaikan kewajiban ibadah, akademik, atau kesehatan, maka terjadi ketimpangan dalam pengelolaan hidup yang perlu dikoreksi secara etis. Akhlak juga mengatur relasi sosial di ruang digital. 

Salah satu penyakit yang paling rawan muncul adalah riya’, yaitu melakukan sesuatu demi mendapatkan pujian manusia. Ketergantungan pada validasi berupa likes dan komentar dapat menggeser orientasi niat dari keridhaan Allah Swt menuju pengakuan sosial. 

Selain itu, konten yang menonjolkan kemewahan dan pencapaian secara berlebihan akan berisiko melahirkan sikap sombong, ujub sekaligus memicu perasaan rendah diri, iri, atau bahkan konflik sosial pada pihak lain. Disini, akhlak menekankan pentingnya empati, sensitivitas sosial, dan kesadaran bahwa ekspresi personal di ruang publik memiliki dampak psikologis bagi orang lain.

Tasawuf melengkapi pendekatan akhlak yang fokus pada dimensi batiniah. Yang berperan sebagai proses penyadaran dan pembersihan jiwa dari penyakit hati yang sering kali tersembunyi. Media sosial menjadi lahan basah bagi munculnya kekaguman berlebihan terhadap diri sendiri (ujub), hasrat akan popularitas (sum’ah), dan cinta dunia yang berlebihan. 

Ketika seseorang mengaitkan nilai dirinya dengan jumlah pengikut atau tingkat keterlibatan warganet, maka ia rentan terjebak dalam siklus pembandingan sosial yang melelahkan dan menjauhkan dari kesadaran spiritual. Dalam pandangan tasawuf, popularitas duniawi dapat berfungsi sebagai hijab yang menghalangi hati dari kehadiran Tuhan.

Inti dari tasawuf sebenarnya adalah keikhlasan, yakni memurnikan niat disetiap perbuatan. Sebelum membagikan konten, individu diajak untuk melakukan muhasabah;apakah tindakan tersebut ditujukan untuk kebaikan dan keridaan Allah, atau semata demi mendapatkan pengakuan dari manusia. 

Media sosial pada dasarnya bersifat netral dan dapat menjadi sarana bernilai ibadah apabila digunakan untuk menyebarkan ilmu, menginspirasi kebaikan, memperkuat solidaritas sosial, atau mendukung aktivitas kemanusiaan. Namun, ketika niat bercampur dengan riya’ dan ujub, tasawuf mengingatkan pentingnya introspeksi dan perawatan hati, bukan justru memperkuat ketergantungan pada validasi semu.

Sejatinya apa yang ditampilkan di ruang digital sering kali merefleksikan kondisi batin seseorang. Hasrat berlebihan terhadap pujian dapat menandakan kebutuhan akan pengakuan yang belum terpenuhi, sementara kecenderungan pamer dapat mengindikasikan kegelisahan identitas. 

Tasawuf mengajak individu membaca gejala-gejala tersebut sebagai sinyal untuk memperbaiki relasi dengan diri sendiri dan Tuhan, bukan sekadar menutupnya dengan aktivitas digital yang repetitif. Meski demikian, potensi positif media sosial tidak bisa diabaikan. Karena mampu menjadi media silaturahmi, dakwah, edukasi, dan penguatan ekonomi yang etis, selama digunakan dengan kesadaran nilai.

Fenomena merekam dan membagikan diri di media sosial bisa dipahami sebagai pisau bermata dua. Akhlak berperan sebagai rambu-rambu etis dalam berperilaku, sementara tasawuf menuntun pada pendalaman niat dan penyucian hati. 

Tantangan utama di era digital bukanlah sekadar bagaimana tetap hadir dan produktif di ruang publik virtual, melainkan bagaimana menjaga kedekatan spiritual dan integritas moral di tengah derasnya arus eksistensi digital. Karena, penilaian yang paling hakiki bukanlah yang datang dari manusia, melainkan dari Allah Swt, termasuk apa yang tersembunyi di balik layar gawai. (*)

***

*) Oleh : Mamluatur Rahmah, Dosen FUD UIN Raden Mas Said Surakarta dan Mahasiswa Doktoral UIN Walisongo Semarang.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Pewarta : Hainor Rahman
Editor : Hainorrahman
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Semarang just now

Welcome to TIMES Semarang

TIMES Semarang is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.